Kerjasama BPOM dan Rumah Sakit dalam Pemetaan Kasus Keracunan di Indonesia


Basis Media Nasional (BMNNews) - Badan Pengawas Obat dan Makanan melalui Pusat Data dan Informasi Obat dan Makanan melaksanakan pertemuan Perkuatan Koordinasi Lintas Sektor Kegiatan Pemetaan Kasus Keracunan di Indonesia pada Selasa, 2 Oktober 2018 di Jakarta Pusat.


Hadir pada acara ini Narasumber dari Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya, Malang dan dari RSU Daha Husada, Kediri, Jawa Timur. Ekawati Emilia selaku Kepala Bidang Tata Kelola Data dan Informasi mewakili Kepala Pusat Data dan Informasi Obat dan Makanan, membuka acara yang dihadiri kurang lebih perwakilan dari 50 Rumah Sakit di Jabodetabek.


Pada sambutannya, Ekawati menyampaikan pentingnya peran petugas Rumah Sakit pada pelaporan kasus keracunan yang terjadi, baik melalui pertemuan rutin maupun penyampaian kendala yang dialami saat pelaporan. 
 

Ekawati melaporkan Kasus Keracunan dari Rumah Sakit di Indonesia pada tahun 2017. Laporan ini merupakan kompilasi data dari 354 Rumah Sakit dan Puskesmas seluruh Indonesia, yang menjadi mitra Badan POM dalam pemetaan kasus keracunan.


Dari laporan tersebut diketahui bahwa penyebab keracunan terbesar di Indonesia tahun 2017 berasal dari binatang, minuman dan kimia. Mayoritas kasus terjadi pada kelompok umur 15-34 tahun dan didominasi oleh perempuan.


Adanya pengetahuan terkait profil kasus keracunan dari tahun ke tahun, akan menghasilkan penanganan kasus yang lebih spesifik.


Selanjutnya, Ali Haedar dari Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya menyampaikan pendekatan yang dapat dilakukan pada pasien keracunan yang tidak diketahui penyebabnya.


Penegakkan pengobatan Karena  penyebab keracunan yang tidak diketahui jenisnya  dapat diketahui melalui pemeriksaan fisik pasien dan cek laboratorium, namun hal utama yang perlu dilakukan pada penanganan keracunan adalah mengobati pasien dengan pertolongan pertama.


Materi selanjutnya disampaikan oleh Tri Maharani dari RSU Daha Husada, terkait penanganan gigitan ular. Gigitan ular di Indonesia menyebabkan mortilitas yang besar, karena terdapat 348 jenis ular di Indonesia, dan kasus kematian terbanyak disebabkan oleh king cobra bite.


Tidak semua keracunan yang disebabkan gigitan ular dapat diobati dengan Serum Anti Bisa Ular (SABU). Bisa ular menyebar di dalam tubuh melalui kelenjar getah bening, sehingga penanganan pertama yang tepat pada gigitan ular penghasil hematotoksin dan neurotoksin adalah melakukan imobilisasi pada bagian yang terkena gigitan.


Di penghujung acara, Judhi Saraswati selaku Kepala Sub Bidang Arsitektur Data dan Informasi melakukan simulasi penggunaan Sistem Pelaporan Informasi Masyarakat Keracunan Kejadian Luar Biasa Keracunan Pangan (aplikasi SPIMKer KLB KP), sebagai tools pelaporan kasus keracunan di Rumah Sakit.


Sebagai penutup, Ekawati mengharapkan Petugas Rumah Sakit lebih memahami penggunaan aplikasi SPIMKer–KLB KP. Selain itu, Badan POM juga mengharapkan komitmen RS untuk lebih rajin dan tertib dalam pelaporan kasus keracunan, sehingga data kasus keracunan lebih valid dan lengkap.





PUSAT DATA DAN INFORMASI OBAT DAN MAKANAN
Kerjasama BPOM dan Rumah Sakit dalam Pemetaan Kasus Keracunan di Indonesia Kerjasama BPOM dan Rumah Sakit dalam Pemetaan Kasus Keracunan di Indonesia Reviewed by Editor Basis Media Nasional on October 03, 2018 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.